Quotes

Jika hanya sementara, itu bukan cinta - Guy Barnard (Misi Terakhir Maitland)

Selasa, 20 Desember 2011

4

Waktu telah menunjukan pukul 3 sore, saatnya aku pulang. Aku melangkah menuju taman depan. Sendiri. Naya dan Zhati telah berada disana, sedangkan Susan sudah pulang terlebih dahulu.

Aku menghampiri mereka yang sedang mengobrol dengan Charlie. Aku mengambil posisi di samping Naya yang duduk di foot step.

Kami mengobrol bersama, kemudian Charlie bangkit dan menuju Minimarket sekolah kami. Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan sekantung snack dan minuman ringan. Ia berjalan ke arahku.

PLETAK!!! sesuatu membentur kepalaku. Aku memandang ke atas, ternyata Charlie yang melakukannya. Aku meringis.

"Tadi ada semut" ujar Charlie kalem.

3

Alunan nada mengalun di seluruh sekolah (kali ini sebuah lagu dari Paramore yaitu The Only Excepti0n), pertanda waktu istirahat telah tiba.

Aku, Naya, Zhati, dan Susan berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kafetaria.

"Catherine, Susan, kalian take tempat dahulu ya. Aku dan Zhati mau ke toilet" ujar Naya.

Aku dan Susan bergerak menuju sebuah meja yang kosong dan duduk disana. Susan asyik memainkan ponsel keluaran terbarunya, sedangkan aku membaca novel favoritku, Wuthering Heights.

"Hey kamu!!!" teriak seseorang di ujung ruangan.

Aku menatap ke sekeliling, siapa yang dipanggilnya??? Kemudian aku menyadari bahwa, semua pasang mata kini tertuju padaku. Jadi aku-kah yang tadi dipanggilnya?

"Apa?" tanyaku pelan, mungkin ia hanya melihat mulutku yang bergerak saja.

Lelaki itu tak menjawab, tetapi seperti biasa ia memberiku sebentuk senyuman.

Jumat, 16 Desember 2011

2

Denting piano mengalun di seluruh sekolah, pertanda waktu istirahat telah berakhir. Sekolahku ini memang unik, setiap hari bunyi belnya pasti berubah.

Aku memasuki pintu kelas dan segera menuju mejaku. Kemudian aku duduk disana bersama teman sebangkuku, Naya.

Tiba-tiba Charlie menghampiriku dan menatap lucu. "Jadi siapa yang kau pilih? Max atau Tom?" tanyanya.

Aku mengernyit, apa maksudnya? Lalu aku teringat bahwa orang yang berkirim pesan singkat denganku itu memiliki kembaran. Max dan Tom.

Aku mendesah malas, "Apasih?"

Charlie hanya tersenyum lebar. "Yaaaaah..... Max-mu sudah pulang. Pasti kau mencarinya" godanya.

Aku menjulurkan lidah.

Charlie tertawa, memperlihatkan gigi berpagarnya. Kemudian ia tersenyum lagi, sebuah senyum terindah yang pernah kulihat

1

Prolog

Pelajaran musik tengah berlangsung, aku dan teman-temanku duduk membentuk lingkaran. Kami duduk bersila. Tiba-tiba Charlie menghampiri, dan kemudian berjongkok dihadapanku. Aku dapat merasakan lututnya yang menindih pahaku.

Charlie menatapku lembut dan kemudian ia tersenyum. Hanya sejenak, namun sejenak ini adalah sejenak terluar biasa dalam hidupku.

***

Sekolah telah usai, kaki kecilku melangkah menuju gerbang. Seraya sesekali menyapa temanku yang berlalu lalang.

"Cath, pinjam ponselmu dong" kata seorang lelaki di hadapanku. Charlie namanya.

"Ponselku rusak" Aku berbohong. Bukan, bukan karena aku pelit! Atau bukan juga karena lelaki dihadapanku itu kurang ajar.

"Oh ayolah, tadi aku melihat kau memainkannya" Charlie tersenyum, memperlihatkan gigi berpagarnya -behel-

"Baiklah, baiklah" aku mengeluarkan ponselku dari tas dan memberikannya kepada Charlie

Charlie mengotak-atik ponselku dengan serius.

"Wow!!!" serunya tertahan.

Seketika itu juga aku teringat pada pesan singkat-pesan singkat dari seseorang yang belum sempat kuhapus. Matilah aku!!! ucapku dalam hati.

"Wah, sepertinya ada yang berkencan tetapi tidak bilang-bilang nih" seru Charlie pelan.

"Apa maksudmu?" aku bukannya pura-pura tidak mengerti, tapi memang aku tak mengerti.

"Oh ini lihatlah, kotak masukmu penuh dengan nomor telepon Max" ia menunjukkan ponselku.

Kemudian dengan paksa, aku mengambil ponselku dan pergi meninggalkan Charlie dan teman-temannya.